Feature Pulau Pari

Menggali Potensi Wisata Pulau Pari

            Pulau ini terdapat di antara gugusan pulau-pulau di wilayah kepulauan seribu. Kepulauan seribu ini masih terdapat di Provinsi DKI Jakarta. Kami pergi ke pulau ini menggunakan kapal 2 tingkat yang lumayan besar. Kami menaiki kapal melalui Pelabuhan Muara Angke. Perjalanan menggunakan kapal dari Pelabuhan Muara Karang ke pulau tersebut sekitar 1 jam 45 menit.

            Pulau ini diberi nama sebagai Pulau Pari. Disebut pulau pari karena pada dahulu kala pulau tersebut terdapat banyak sekali ikan Pari yang mengelilingi pulau tersebut. Dahulu sebelum menjadi obyek pariwisata, Pulau Pari sangatlah tidak terurus. Kebanyakan dari penduduk Pulau Pari, mereka menggantungkan hidup mereka menjadi nelayan.

            Sesampainya di Pulau Pari, yang saya lihat adalah pulau yang biasa saja karena sebelumnya saya tidak mengetahui apa-apa tentang Pulau Pari. Cuman, ada satu hal yang membuat saya terkesan, hal itu adalah air laut yang masih sangat jernih. Saya terpukau akan hal itu, sebab pulau lain yang pernah saya kunjungi di kepulauan seribu airnya sudah mulai kotor.

            Di Pulu Pari terdapat fasilitas untuk melakukan snorkling. Saya tidak tahu berapa biayanya sebab saya tidak melakukan snorkling. Selain snorkling, kalian juga dapat bermain banana boat. Semua itu dapat dilakukan pada waktu matahari masih ada.  

            Setelah sampai di Pulau Pari, saya dan teman-teman saya dibawa ke tempat penginapan. Tempat penginapan tersebut berbentuk seperti rumah. Rumah tersebut adalah rumah warga yang disewakan untuk para turis yang datang ke Pulau tersebut. Rumah tersebut tidaklah begitu spesial karena berbentuk seperti rumah biasanya yang sederhana.

            Namun, kita tidak boleh menilali sesuatu dari luarnya saja. Ketika saya masuk ke dalam rumah tersebut, hal pertama yang bisa saya katakan adalah “bersih”. Biasanya pada sebuah penginapan yang sederhana kesan kotor yang sering kita pikirkan, tidak demikian pada penginapan di Pulau Pari. Fasilitas pendingin ruangan juga ada pada penginapan tersebut.

            Ketika saya sudah bersantai sejenak di dalam penginapan yang sangat sejuk dan nyaman sekali, kami juga mendapatkan makan siang dari pemilik penginapan, sesudah itu saya dan kedua teman saya berkeliling pulau menggunakan sepeda yang terdapat di depan penginapan. Sepeda-sepeda yang terdapat pada depan penginapan adalah fasilitas yang diberikan oleh pemilik penginapan sebagai fasilitas pelengkap untuk para wisatawan.

            Kami mengendarai sepeda mengelilingi Pulau Pari melewati Pantai Pasir Perawan, Pantai Kresek, dan Pantai Bintang. Di dekat Pantai Bintang, di sana terdapat sebuah tempat observasi biota laut. Kami memasuki kawasan tersebut untuk melihat-lihat. Untuk masuk di sana gratis tanpa perlu biaya apapun, namun harus memasukkan data diri kita. Cukup satu orang sebagi perwakilan jika perginya berombongan.

            Kami mengelilingi tempat obsevasi tersebut, akhinya kami memutuskan untuk pergi ke ujung Pulau Pari. Jalan yang kami lewati hanya bisa dilewati hanya dengan jalan kaki. Sesampai kami di ujung Pulau Pari, kami terpukau dengan keindahannya karenan dari sana kami dapat melihat ke lautan luas yang ditaburi pulau-pulau di sekitarnya. Air yang sangat jernih sampai kami dapat melihat ikan-ikan berenang di bawah.

            Kami menikmati sejenak pemandangan yang indah dari ujung Pulau Pari yang merupakan bekas dermaga yang sudah tidak dipakai lagi. Namun saya menyesal karena tidak membawa satupun kamera, gadget, ataupun alat yang bisa digunakan untuk memotret. Di sana juga anginnya berhembus sangat kencang dan membuat suasana menjadi tenang dan damai, hal yang kita jarang jumpai di Kota Jakarta yang sudah sangat sesak.

            Sesudah dari tempat tersebut, kami pun kembali ke penginapan untuk beristirahat sejenak. Pada sore harinya, kami para rombongan pergi ke Pantai Pasir Perawan ikonnya Pulau Pari. Kami di sana diajak untuk menanam Pohon Bakau. Sesudah menanam Pohon Bakau. Kami bersantai dan bermain-main di Pantai Pasir Perawan sampai Maghrib menjelang.

            Sesudahnya dari Pantai Pasir Perawan, kami kembali ke penginapan untuk membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pergi ke Pantai Kresek pada malam harinya untuk makan malam di sana. Kapan lagi makan malam di Pantai??? Sesudah kami makan, kami bersenang ria di pantai tersebut bersama teman-teman, hal yang jarang kita dapatkan di kota yang serba sibuk.

            Malam pun mulai larut, kami pun kembali ke penginapan untuk tidur malam. Pagi pun datang. Suasana pagi di Pulau Pari sangatlah asri sekali seperti di pedesaan-pedesaan. Suasana yang sangat sejuk dan menemtramkan sekali membuat kita seperti tidak ingin kembali ke Kota yang sangat sesak. Pagi itu kita disediakan lagi makan.

            Sesudah makan pagi. Kami kembali ke Pantai Kresek untuk mewawancarai tokoh setempat yaitu Ketua RW Pulau Pari. Nama Beliau adalah Pak.Nurhayat. Beliau mengatakan Pulau pari menjadi tempat pariwisata pada tahun 2010. Yang hebatnya adalah semua fasilitas yang ada di Pulau Pari adalah hasil swadaya dari para penduduk setempat dan tidak ada campur tangan dari pemerintah.

            Beliau juga mengatakan pada tahun 2016 mendatang akan dibangun sebuah resort yang biayanya datang dari pengembang. Beliau tidak takut aka nada persaingan antara warga dan pengembang dalam penyewaan tempat tinggal atau Homestay. Dikarenakan Homestay yang diberikan oleh penduduk sekitar sangatlah cocok untuk backpacker yang mencari penginapan low cost.

            Pak Nurhayat juga memaparkan kepada kami jumlah pengunjung yang mengunjungi Pulau Pari. Pada hari biasa Pengunjung yang berkunjung ke sana diantara kisaran 300-an orang. Yang membuat saya tercengang adalah jumlah wisatawan yang berkunjung ke sana pada hari libur nasional maupun libur tahun baru, jumlahnya bisa mencapai 2000 sampai 3000 orang.

            Selain mewawancarai sang Ketua RW, saya juga mewawancarai penjaga pantai Kresek. Nama beliau adalah Ibu.Yuli. Dia mengatakan untuk memasukin kawasan Pantai Kresek, pengunjung diwajibkan untuk membayar Rp.2000,00 untuk merawat pantai tersebut. Dipungut biaya karena tidak ada pilihan lagi sebab tidak ada campur tangan pemerintah untuk merawatny yang artinya tidak ada kucuran dana dari pemerintah.

            Bu.Yuli berharap adanya bantuan dari pemerintah Provinsi DKI Jakarta maupun pemerintah pusat untuk merawat dan mengembangkan potensi pariwisata di Pulau Pari. Karena untuk merawat dan mengembangkan potensi pariwisata Pulau Pari membutuhkan dana yang tidaklah kecil. Beliau juga berharap para wisatawan juga dapat menjaga kebersihan Pulau Pari.

            Orang terakhir yang saya wawancarai adalah seorang pedangan yang membuka sebuah kios di Pantai Kresek. Nama dari sang penjual adalah Pak.Tiswan. Beliau membuka warungnya selama 24 jam bersama seorang istrinya. Warung beliau selalu ramai dikarenakan hanya beliau yang membuka warung satu-satunya di Pantai Kresek.

            Beliau mengatakan kunjungan wisatawan setiap tahunnya selalu bertambah, dikarenakan dari turis yang datang kesana setelah pulang mereka membicarakannya dan memberitahukan kepada orang-orang tentang Pulau Pari. Begitulah pendapat yang di kemukakan oleh Bapak.Tiswan. Harapannya juga sama seperti semua warga di Pulau Pari. Semoga Pulau Pari tambah ramai dan tetap bersih.

            Pulau Pari yang sekarang bukanlah Pulau Pari yang dulu dikarenakan para warganya sudah mengenal potensi pariwisata tempat tinggal mereka. Hal itu juga berdampak pada kualitas dan pendapatan hidup mereka mulai naik dan mereka mulai sejahtera tidak seperti dulu yang menjadi nelayan yang bergantung pada cuaca. Semoga Pulau Pari semakin berkembang dan menjadi ikon pariwisata Kepulauan Seribu.
             
           
             
            






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Feature Kiat ( How To Do It )

Memeperingatai Hardiknas

Feature How To Do It