Feature Pulau Pari (Edisi UAS)

Potensi yang Terpendam di Kepulauan Seribu

Pulau yang terdapat di antara gugusan pulau-pulau yang berada di Provinsi DKI Jakarta ini masihlah sangat asri dan indah. Pulau ini dapat ditempuh menggunakan kapal penumpang yang berkapasitas besar dan juga dapat menggunakan kapal yang berkapasitas kecil yang biasa bekecepatan lebih cepat dibandingkan dengan kapal yang berkapasitas kecil.

Pulau ini dapat ditempuh dengan waktu rata-rata 1 jam 45 menit dengan menggunakan kapal yang berkapasitas penumpang yang lumayan banyak. Kenapa saya mengatakan lumayan banyak, karena kapal tersebut dapat menampung orang sebanyak 100 orang lebih. Pulau yang dituju adalah pulau yang bernama Pulau Pari.

Kami dari Kampus Universitas Bunda Mulia pergi ke Pulau Pari menggunakan kapal yang berkapasitas besar tersebut pada hari sabtu di bulan November. Pada waktu perjalan ke Pulau Pari, saya mendapatkan pemandangan yang sangat indah sejauh mata saya memandang. Seperti lepas di lautan luas setelah kepenatan yang saya dapatkan di Kota Jakarta.

Dengan waktu perjalan yang cukup lama, kita dapat menikmati angin yang segar serta pemandangan yang indah. Sesampinya kita di Pulau Pari, hal yang pertama akan kita pikirkan adalah pulau yang biasa saja dan tidak ada istimewanya dari pulau-pulau yang lain. Karena kita hanya melihat bagian depan atau bagian luar dari pulau tersebut.

Jika kita berjalan menulusuri pulau tersebut lebih jauh dan lebih dalam, hal yang akan kita pikirkan selanjutnya adalah pulau ini adalah pulau yang sangat indah dan ramah. Pada saat kita di Pulau Pari, kita akan mendapatkan penginapan di pulau tersebut yang biasa disebut dengan Homestay oleh masyarakat setempat.

Homestay yang terdapat di Pulau Pari sangatlah banyak dengan harga yang bervariatif dan cukup bersaing. Dikarenakan harga yang terjangkau dan memiliki fasilitas yang cukup lengkap dengan mempunyai pendingin ruangan di setiap homestaynya. Bukan hanya itu, pada setiap homestay, setidaknya memiliki minimal 3 pendingin ruangan.

Pada setiap Homestay juga terdapat sepeda yang sudah disediakan oleh para pemilik Homestay. Sepeda tersebut sebanyak 10 unit sepeda untuk 1 Homestay. Disediakan 10 unit sepeda dikarenakan setiap Homestay hanya dapat ditinggali maksimal sebanyak 10 orang saja. Tidak hanya sampai disitu, setiap Homestay juga sudah menyediakan makan.

Makan yang diberikan adalah makan pada pagi, siang, sore, dan pada malam hari akan ada barberque di salah satu pantai yang ada di Pulau Pari. Pantai yang terdapat di Pulau Pari sebanyak 4 pantai. Nama-nama pantai tersebut adalah Pantai Pasir Perawan, Pantai Kresek, Pantai Lipi, dan Pantai Bintang.

Dari keempat pantai tersebut, pantai yang paling banyak dikunjungi atau ikon dari Pulau Pari oleh pengunjung atau turis adalah Pantai Pasir Perawan. Karena keindahan yang diberikan oleh Pantai Pasir Perawan melebihi dari pantai-pantai yang terdapat pada Pulau Pari tersebut. Pantai Pasir Perawan memiliki daratan yang berbalutkan pasir bersih dan halus.

Pantai di Pantai Pasir Perawan, daratan yang menjorok ke laut tersebut sangatlah dangkal. Jadi kita dapat berjalan lebih jauh dari bibir pantai. Di sana kita dapat menanam bibit Pohon Bakau. Kita dapat menjaga dan melestarikan Pantai Pasir Perawan dari ancaman abrasi dengan cara menanam Pohon Bakau di sepanjang bibir pantai tersebut.

Kami juga berkesempatan untuk mewawancarai tokoh masyarakat setempat yang juga menjabat sebagai Ketua RW di sana. Nama beliau adalah Bapak Nurhayat. Kami sempat menanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan Pulau Pari dengan Bapak Nurhayat. Beliau tidak sungkan untuk menjawab beberapa pertanyaan dari kami.

Beliau mengatakan Pulau Pari menjadi tempat destinasi wisata di Kepulauan Seribu pada tahun 2010. Pada awalnya masyarakat setempat berprofesi sebagai nelayan. Yang membuat saya takjub pada saat mewawancarai Bapak Nurhayat adalah semua pengelolaan dan semua fasilitas yang ada di sana adalah hasil dari swadaya masyarakat sendiri.

Tidakadanya campur tangan ataupun bantuan dari Pemerintah Daerah ataupun Pusat tidak membuat masyarakat jadi patah semangat untuk mengembangkan potensi wisata di daerah tempat tinggal mereka sendiri. Mereka dengan semangat terus mengembangkan potensi atau objek-objek pariwisata di Pulau Pari sendiri.

Bapak Nurhayat juga menuturkan bahwa jumlah pengunjung pada hari biasa atau hari kerja adalah sebanyak 300-an orang. Sedangkan pada saat hari libur, pengunjung melonjak sangat drastis, yaitu sebanyak 2000 sampai 3000 orang. Angka yang cukup fantastis untuk sebuh Pulau yang baru mengembangkan potensi wisatanya.

Selain berkesempatan mewawancarai Ketua RW setempat, kami juga berkesempatan untuk mewawancarai salah satu penjaga pintu masuk di salah satu pantai yang terdapat di Pulau Pari. Beliau bernama Bu Yuli. Kami sempat berbincang-bincang sejenak dengan beliau untuk mengetahui lebih dalam tentang pantai yang kami kunjungi.

Beliau mengatakan, untuk memasukin pantai tersebut, pengunjung diminta untuk membayar tiket masuk sebesar Rp2000. Harga tiket tersebut hanya berlaku untuk pengunjung yang tidak menggunakan paket wisata. Uang tersebut nantinya akan digunakan untuk merawat dan mengembangkan lagi fasilitas-fasilitas yang terdapat di Pantai Kresek tersebut.

Kami juga menyempatkan untuk mewawancarai salah satu pedangan yang ada di Pantai Kresek tersebut. Beliau bernama Bapak Tiswan. Beliau membuka sebuah warung yang berjualan makanan dan minuman. Kami sempat menanyakan sebuah pertanyaan, beliau mengatakan pulau ini biasanya terdapat turis asing yang datang berkunjung.

Beliau juga berharap pada wisatawan lokal yang berkunjung ke Pulau Pari untuk dapat menyebarkan informasi tentang indahnya pulau tersebut kepada teman, keluarga, atau siapapun. Supaya Pulau Pari dapat lebih dikenal oleh orang banyak, dan dapat dikunjungi oleh lebih banyak wisatawan.

Setelah 2 hari 1 malam di Pulau Pari. Kami pun kembali pulang ke Kota Jakarta. Pada saat berada di Jakarta. kami juga mewawancarai 2 orang dosen di kampus kami yaitu Universitas Bunda Mulia. Kedua dosen tersebut masing-masing adalah dosen di pelajaran Management dan satunya lagi adalah dosen Pariwisata.

Kami berkesempatan terlebih dahulu untuk mewawancarai Dosen Parawisata. Nama beliau adalah Ibu Supinah. Beliau mengatakan sebenarnya objek-objek pariwisata di Indonesia sangatlah berpotensi untuk terkenal di dunia luar, cuma dikarenakan kurangnya promosi membuat pariwisata di Indonesia hanya dikenal di dalam negri.

Namun kita tidak boleh hanya menyalahkan pemerintah saja dikarenakan kurangnya minat berkunjung ke objek-objek wisata di Indonesia. Kita juga harus membantu perkembangan objek pariwisata di Indonesia dengan cara kita berkunjung ke objek-objek tersebut dan menyebarkannya seluas dan sebanyak mungkin.

Pada saat mewawancarai Dosen dari Management, yaitu Miss Ashwita. Beliau mengatakan pariwisata di Indonesia dapat berkembang dengan baik, yaitu dengan cara menata kembali management-management yang sudah ada sekarang ini. Menurut beliau, management yang ada sekarang sangatlah tidak rapih dan semrawut.


Dengan cara itulah potensi pariwista di Indonesia dapat berkembang sebagaimana mestinya. Pada akhirnya dapat saya simpulkan adalah sebenarnya potensi pariwisata di Indonesia sudahlah sangat bagus dan banyak, tinggal kita yang menjaga dan menyebarluaskannya saja supaya lebih dikenal di dunia luar.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Feature Kiat ( How To Do It )

Memeperingatai Hardiknas

Feature How To Do It