Feature Imlek
Kionghi
Idaman Mendulang Berkah
Tahun Baru China atau
yang biasa disebut oleh masyarakat umum di Indonesia yaitu Imlek. Imlek ini
selalu dirayakan oleh masyarakat Tionghua setahun sekali. Orang Tionghua
biasanya menyambut imlek dengan cara bersembahyang di klenteng-klenteng yang
dituju pada malam sebelum Imlek
Imlek yang diadakan
setiap tahun biasanya selalu berada di bulan Januari atau bulan Februari. Malam
sebelum Imlek, keluarga saya selalu melakukan “Ciak Tua Kai” atau makan besar. Makan
besar yang dimaksud adalah makan dengan lauk pauk yang banyak dari hari-hari
biasanya.
Keluarga saya melakukan
Makan besar pada tahun ini pada keluarga saya adalah shabu-shabu dengan lauk
sayur-sayuran, daging ayam maupun sapi, jamur hingga bakso-bakso dengan kuah
kaldu ayam dan kuah tom yam dengan isi mie soun di dalam soup tersebut.
Orang tua saya selalu
melakukan hal tersebut pada malam sebelum Imlek bertujuan supaya keluarga kami
lebih dekat atau lebih akrab yang biasanya keluarga saya jarang melakukan makan
bersama pada satu meja yang sama dikarenakan kesibukan kedua orang tua saya
yang harus membuka dan menjaga toko.
Setelah makan besar
sudah dilaksanakan, kedua orang tua saya biasanya akan melalukukan sembahyang
pada dewa-dewi di rumah pada jam 12 malam yaitu tepat pada hari pertama Imlek. Sembahyang
itu biasanya dilakukan untuk meminta berkah pada dewa-dewi supaya bisa melewati
tahun baru China yang akan datang dengan penuh berkat.
Pada pagi hari pertama
perayaan imlek, keluarga saya akan menghampiri orang-orang yang lebih tua untuk
dikunjungi dikarenakan orang tua harus diutamakan pada “shincia”. Pada perayaan
imlek yang saya lewati pada tahun ini adalah mengunjungi abang dari ayah saya
yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari kediaman kami.
Saya mengunjungi paman
saya kira-kira pada pukul 10 pagi. Disana merupakan tempat berkumpulnya
keluarga-keluarga kami yang kebetulan bermukin di dekat saya yaitu di BSD. Disana
saya bersalaman sambil mengucapkan “kionghi” pada setiap keluarga dan orang
yang saya temui.
Sambil menyalami
keluarga dan mengucapkan “kionghi”, saya juga dikasih angpao yang berisikan
uang dengan nominal yang berbeda-beda. Simbol dari angpao tersebut supaya orang
yang mendapatkan angpao tersebut akan mendapatkan berkah pada tahun baru China
yang baru. Biasanya orang yang memberikan angpao merupakan orang yang sudah
menikah.
Setelah saya dan
keluarga saya mengunjungi rumah paman saya yang kebelutan rumahnya tidak jauh
dari tempat kediaman keluarga saya. Kami berseta keluarga yang lain melanjutkan
“shincia” meluncur ke rumah paman dari ayah saya yang berada di Muara Karang.
Paman dari ayah saya
ini merupakan saudara terakhir yang masih hidup dari semua saudara laki-laki
kakek saya. Jadi beliau harus kami kunjungi setiap tahun pada perayaaan Imlek.
Disana saya juga dikasih angpao dari beliau dengan harapan keberuntungan akan
saya dapatkan pada tahun baru China ini yang kebetulan adalah tahun anjing.
Setalah saya
mengunjungi paman dari ayah saya di Muara Karang, kami melanjutkan perjalan ke
keluarga lain yang kebetulan tempat tinggalnya yang lumayan jauh yaitu di Kota
Wisata Cibubur. Sama seperti Imlek biasanya, kami di sana bersilahrahmi dan
saling bercengkrama.
Setelah dari Cibubur,
kami melanjutka perjalanan ke daerah Bekasi yaitu ke rumah teman dari paman
saya dan keluarga saya yang lain. Di tempat teman dari paman saya, saat kami
sedang bersilahturahmi, teman dari paman saya menawarkan makanan khas orang Kalimantan
yang tentunya tidak halal karena mengandung babi (hehehe).
Setelah serangkain
perjalanan dan silahturahmi yang saya dan keluarga saya lakukan, kami
menyudahinya dengan perjalanan pulang ke rumah pada pukul 18:00. Setelah
sampai, saya berkunjung lagi di rumah paman saya untuk bertemu dengan sepupu
saya yang kebetulan baru sampai di rumah paman saya.
Malam sudah larut, saya
akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah dan beristirahat. Setelah saya sampai
di rumah, saya beristirahat dikarenakan keesokan harinya harus menjaga toko
lagi setelah libur seharian.
Komentar
Posting Komentar