Review Film


PENGEKAKNGAN PERS YANG TIDAK SEMESTINYA : REVIEW THE POST


Pada jaman sekarang ini media tidak hanya digunakan sebagai tempat untuk mendidik, menghibur, menyebarkan berita dan lain-lain. Namun pada jaman sekarang ini media sudah menjadi alat politik untuk kepentingan kelompok maupun pemilik dari media tersebut sehingga media yang independen sudah sedikit dijumpai.

Dalam film The Post mengambil waktu tahun 1970an, isunya masih sangat relevan. Keburu-buruan produksi ini oleh Spielberg, mungkin sekalian dimaksudkan untuk menangkap isu yang tengah hangat di Amerika, dimana Presiden Trump mengancam akan menggulung media yang diklaimnya memberitakan “fake news”. Menontonnya membuat kita sadar betapa sedikit hal berubah. Setelah 5 dekade nyatanya kita masih menghadapi masalah yang sama. Di Indonesia pun begitu. Terlalu kritis terhadap kebijakan pemerintah kadang bisa berujung pembredelan. Padahal suara media dan rakyat itu penting untuk mengontrol akuntabilitas pejabat publik.

The Washington Post yang memberitakan soal skandal pemerintah yang menutupi fakta soal Perang Vietnam. Sejak administrasi 3 presiden sebelumnya, dan sekarang giliran Nixon, pemerintah secara sembunyi-sembunyi mendukung perang yang mereka tahu tak bisa dimenangkan, yang berarti mengorbankan ratusan nyawa pemuda Amerika untuk hal yang sia-sia. Adalah Daniel Ellsberg (Matthew Rhys), seorang mantan tentara, yang membawa kabur ribuan lembar fotokopi dokumen rahasia pemerintah tersebut untuk diungkap ke publik. 

Awalnya yang mendapat dokumen adalah The New York Times, koran nasional yang dianggap sebagai saingan oleh The Washington Post yang saat itu baru berstatus koran lokal. Namun koran ini dipersekusi karena dinilai mengancam keamanan nasional. Saatnya memancing di air keruh; kesempatan bagi The Washington Post untuk mengambil alih. Informan The New York Times mengoper dokumennya dan sekarang The Washington Post sudah punya 4000 halaman rahasia pemerintah. Masalahnya adalah dokumen ini sudah diputuskan oleh Kejaksaan Agung untuk dilarang diterbitkan. Membuat liputan tentangnya tak hanya mengancam keberlangsungan koran melainkan juga bisa membuat pihak yang terlibat dipenjara.

The Post lebih sedikit bermain sebagai film prosedural jurnalistik, alih-alih cenderung mencermati problematika yang berpotensi ditimbulkan oleh subyek yang diangkatnya. Disinilah film memberikan dua karakter dari The Washington Post yang berbeda cara pandang: redaktur Ben Bradlee (Tom Hanks) yang idealis dan sang bos Kay Graham (Meryl Streep) yang lebih konservatif. Sama-sama ingin koran mereka maju, tapi punya metode yang berbeda untuk mencapai tujuan. Ben bersikap bodoamat dengan represi pemerintah, sementara Kay mengkhawatirkan korannya yang terancam bangkrut.

Dengan review singkat yang saya berikan, kita dapat sedikit mengetahui apa yang sebenarnya diceritakan di dalam film tersebut. Film yang rilis pada tahun 2017 ini mendapatkan rating sebesar 7,2 di IMDB. Ini merupakan rating yang lumayan besar untuk rating-rating film di IMDB, dengan kata lain film ini layak untuk menjadi salah satu referensi film untuk ditonton di akhir pekan anda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Feature Kiat ( How To Do It )

Memeperingatai Hardiknas

Feature How To Do It